Selamat Mampir

welcome

Selayaknya gerbang, atau pintu pada sebuah rumah, maka baik juga rasanya saya membuat satu untuk rumah baru saya ini, agar setiap pejalan kaki (atau berkendara) yang lewat dan hendak mampir sebentar, merasa tak dicuekkan, begitulah.

Ya, rumah saya sebelumnya di kompleks blogspot.com, bisikanbusuk yang sudah mulai terkenal itu. *ketawa setan* Maka di rumah baru saya ini sudah tentu isinya akan berbeda dengan rumah yang lama. Jika di rumah yang lama dihuni oleh sajak-sajak, rumah yang baru ini akan saya isi dengan segala hal yang bukan sajak.

2009: Semacam Kilas Balik dan Permenungan

Alhamdulillah.

Satu kata itu yang tidak pernah lepas dari lidah saya, dan itu juga yang saya ucapkan tadi malam saat menunggu pergantian tahun, juga hari ini saat sudah memasuki hari pertama di tahun yang baru. Boleh saya katakan tahun 2009 kemarin merupakan tahun penuh keberhasilan dan kebahagiaan bagi saya. Banyak hal yang saya peroleh, saya alami, saya raih, dan sebagian besar dari hal-hal tersebut tidak pernah saya duga akan terjadi sebelumnya. Maka dalam tulisan ini saya ingin mengingat kembali hal-hal apa saja yang telah saya raih di tahun 2009.

- – -
Asisten Dosen.

Saya diterima sebagai asisten dosen (asdos) untuk matakuliah Aljabar Linier dan Matriks. Sebenarnya teman saya yang memberitahu tentang penerimaan asdos dan mengajak saya untuk melamar jadi asdos, tapi ternyata setelah proses seleksi dan pengumuman, nama teman saya justru tidak ada dalam daftar mahasiswa yang lolos menjadi asdos. Tidak banyak sebenarnya yang saya lakukan selama menjadi asdos, hanya masuk sekali saat perkenalan dengan anak-anak kelas, sisanya pekerjaan saya hanya mengoreksi tugas-tugas mereka dan memberikan rekap nilainya ke dosen pengampu. Satu lagi yang saya ingat, saya tidak sempat mengambil gaji saya. Setidaknya, ini menambah pengalaman saya di dunia akademis perkuliahan, tidak hanya menjadi mahasiswa tapi juga pernah merasakan menjadi seorang asisten dosen.

Feby.

Februari 2009, saya mendapat kamera DSLR pertama saya (berharap akan dapat yang ke-dua :p), Canon EOS 1000D yang kemudian saya beri nama Feby. Saya ingin menggambarkan perasaan saya ketika ayah saya menelpon dan menanyakan tentang keinginan saya memiliki sebuah kamera DSLR dan beliau langsung mengabulkannya, tapi sepertinya sulit, biarlah suasana itu saya rasakan dan kenang saja sendiri. Yang jelas saya senang bukan kepalang. DSLR yang ayah saya belikan tidaklah terlalu mahal, termasuk kelas amatir dan harganya terhitung murah meriah untuk ukuran sebuah kamera DSLR. Tapi toh itu tidak menyurutkan kegembiraan saya. Sejak itu saya mulai aktif memotret, baik memotret teman maupun hunting sendirian. Saya membuka account di DeviantArt dan mengupload karya-karya saya di sana. Saya juga beberapa kali mendapat order memotret, baik yang beramplopkan ucapan terima kasih maupun yang benar-benar berisi uang. :p Feby, saya mencintai kamu.

Puisi.

Maret 2009, akhirnya setelah berbulan-bulan bergumul dengan puisi, puisi saya dimuat untuk pertama kalinya di koran KOMPAS. Sebenarnya sebelum di KOMPAS, saya sudah melihat puisi saya termuat di majalah GONG. Namun saya tidak diberitahu akan pemuatan tersebut. Cerita soal puisi saya yang dimuat di KOMPAS, saya jelas kaget sekaligus senang. Pagi itu (hari Minggu tentunya) masih sekitar pukul 03:00 dan saya terbangun oleh suara dering handphone, ternyata ada sms masuk. Sms tersebut dari TS Pinang, penyair guru sekaligus idola saya. Isi pesannya sangat singkat, “Beli Kompas hari ini ya. hehe..” Saya kira puisinya dimuat di KOMPAS dan hendak memberitahu saya agar saya melihat dan membacanya, saya tidak mengira yang dia maksud justru ada puisi saya di sana.

Saya masih belum ngeh, sampai akhirnya sms lain masuk ke handphone saya, dari Aan Mansyur, penyair guru saya yang lain sekaligus idola saya juga. Ia memberi ucapan selamat sambil memberitahukan bahwa puisi saya hari itu ada di KOMPAS bersama puisi Sunlie Thomas Alexander. Tidak lama setelah itu dia menelepon saya, mengulang lagi ucapan selamat sambil berkata-kata singkat kepada saya. Saya baru sadar. Terdiam. Dan tidak bisa tidur lagi.

Paginya saya buru-buru membeli koran dan melihat ternyata benar nama dan puisi saya ada di koran KOMPAS. Lalu, belum lewat satu jam setelah itu handphone saya berdering lagi, telepon masuk dari Hasan Aspahani, penyair guru saya yang lain lagi, dan tentu saja idola saya juga. Beliau memberi selamat atas puisi saya yang dimuat di KOMPAS, dan memberitahukan bahwa puisi saya saat itu juga dimuat di harian Batam Pos, tempat beliau bekerja. Alamak, apaan ini, saya membatin dalam hati. Kalau main guli (kelereng) saya ibarat rambang!

Setelah pemuatan puisi saya di majalah GONG, harian KOMPAS dan Batam Pos pada saat yang bersamaan, berturut-turut puisi saya kembali dimuat di harian yang berbeda. Bulan April di Koran Tempo dan Suara Merdeka, bulan Juli di Jurnal Nasional dan Batam Pos lagi, bulan Agustus di Batam Pos lagi.

Puisi saya juga dimuat dalam bentuk buku, di buku puisi “Pedas Lada Pasir Kuarsa” : Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia II – Bangka Belitung, dengan sebelumnya saya mengirim beberapa puisi saya untuk diikutsertakan seleksinya, dua dari lima yang saya kirim termaktub di buku tersebut.

Yang terakhir, pada bulan Desember puisi saya dimuat lagi di majalah GONG.

Tentu saya paham tujuan saya menulis puisi bukanlah untuk dimuat di koran atau majalah, tapi setidaknya dengan pemuatan tersebut dapat sedikit memompa semangat saya untuk terus-menerus berkreasi dan tetap menggali kemampuan saya dalam hal tersebut.

Ikan.

Mei 2009, saya mendapatkan wanita idaman saya selama ini. Tidak berlebih kalau saya sebut sebagai “idaman”, karena memang sejak kami saling mengenal dan berteman di SMP saya sudah menyukai dia, dan tidak pernah berhenti mengingat dia sampai akhirnya sekarang saya mendapatkannya. Terhitung sejak lulus SMP sampai awal tahun 2009, sekitar 4 tahun lebih saya menunggu namun tidak pernah berharap terlalu jauh bahkan untuk bisa kembali menjalin hubungan yang baik dengan dia, sebab saya pernah berbuat hal bodoh dan itu membuat dia menyimpan kebencian kepada saya selama bertahun-tahun. Namun atas kuasa Yang Maha Memberi, kami akhirnya berbaikan dan perlahan mulai menjalin komunikasi kembali. Saya semakin mengerti bahwa cinta tidak mengenal jarak dan waktu, meski sedang tinggal terpisah laut kami mampu saling percaya dan bersepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman. Terbukti hubungan indah itu masih bertahan hingga saat ini, juga tentu saja saya menanam harap untuk terus bersama dia sampai saya (insyaAllah) lulus kuliah nanti, mendapat pekerjaan tetap, dan memiliki tabungan yang cukup untuk melangsungkan akad impian itu. :)

Di samping hal-hal spesifik yang telah saya kisahkan tadi, saya juga merasa senang pada tahun 2009 saya merasa menjadi manusia yang meningkat levelnya, kualitasnya. Dalam arti pola pikir, kendali emosi, dan keyakinan saya telah jauh lebih matang dari sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari banyaknya peristiwa besar yang saya alami selama 20 tahun hidup saya, terutama terkait dengan keluarga saya. Tahun sebelum tahun 2009 adik bungsu saya pergi menghampiri Yang Maha Kuasa, peristiwa tersebut berhasil dengan telak menggugat keyakinan saya yang selama ini merasa kematian masih berada jauh dari saya.

- – -

Bamby Cahyadi: TANGAN UNTUK UTIK- Kejutan Sederhana yang Serius [ulasan kumcer]

Kejutan 1 : 100 KATA BAMBY CAHYADI

Kejutan!

Itulah satu kata yang menurut saya paling cocok disematkan pada cerpen-cerpen Bamby Cahyadi.

Sedikit mengingat kembali awal perkenalan saya dengan Bamby Cahyadi, yaitu di situs komunitas penulis http://kemudian.com, saya langsung tertarik saat baru membaca satu postingannya di sana, cerpen 100 kata. Cerpen 100 kata sendiri baru kali itu saya dengar. Jelas cerpen 100 kata berarti cerita pendek yang hanya berisikan 100 kata, alhasil menjadi cerita pendek yang sangat pendek. Seperti hal-hal pendek lainnya, tentu yang menjadi tantangan adalah bagaimana seseorang dapat melakukan hal yang menarik, ‘menggebrak’, ‘menendang’, atau ‘menusuk’ dalam ruang yang sangat sempit dan terbatas itu. Tapi Bamby berhasil. Sangat berhasil! Apakah lagi yang seseorang harapkan dari sesuatu yang sangat singkat, pendek? Tidak lain dan tidak bukan. Kejutan! Dan Bamby telah memberikannya.

Dan tanpa saya sadari saya telah membuat tulisan 100 kata di paragraf sebelumnya.
:p

Kejutan 2 : SEDERHANA = SERIUS

Kenapa saya mengingat kembali cerpen-cerpen 100 kata Bamby Cahyadi? Karena saya sangat menyukainya. Cerpen 100 katanya penuh kejutan, kreatif, dan kocak. Tapi yang terakhir tidak saya temukan lagi di cerpen-cerpen bukan-100-kata Bamby Cahyadi, khususnya dalam Tangan Untuk Utik ini.

Dalam Tangan Untuk Utik, Bamby terlihat muram, lebih sering bersedih, seolah sedang memikirkan banyak hal serius. Sangat serius. Saya membayangkan Bamby sedang duduk termangu di teras rumah, membiarkan segelas kopi di meja kecil di dekatnya pelan-pelan menjadi dingin. Atau sedang menatap kosong layar komputer di tempat kerjanya tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Bahkan sampai merenung panjang di tempat tidurnya, di balik selimut tebal, mengacuhkan gelap malam dan hawa dingin, membisu bersama pikiran yang berkelana tanpa raganya, mengacuhkan istrinya.

Hal-hal yang sedang direnungi oleh Bamby bukanlah hal-hal besar. Bukan hal-hal yang dianggap penting oleh banyak orang. Bamby memikirkan hal-hal sepele. Sederhana, kalau tidak mau menyebutnya remeh.

Ia berpikir tentang seorang karyawan tua yang merasa sangat kesepian di saat-saat mendekati masa pensiunnya. Ia berpikir tentang seorang ibu yang merasa dapat bertemu dengan almarhum suaminya lewat televisi tua. Ia berpikir tentang seorang warga kampung yang tiba-tiba merasa tidak lagi sedang tinggal di dalam negerinya sendiri. Ia berpikir tentang seorang sahabat yang ingin berkorban untuk sahabatnya. Semacam itulah.

Namun Bamby memikirkan hal-hal remeh itu dengan serius. Sangat serius. Dan ia ingin menghasut orang lain untuk turut memikirkan hal-hal itu sebagai sesuatu yang serius. Lantas bagaimanakah caranya menyampaikan kepada pembaca (selanjutnya menjadi “saya”; red) lewat tulisannya akan hal-hal sepele itu, agar saya juga ikut duduk bersamanya dan berubah pikiran bahwa hal-hal itu sebenarnya memanglah hal-hal yang serius? Yakni dengan siasat, memberikan kejutan!

Bamby menyentak benak saya lewat kejutan. Tidak banyak, sebuah untuk setiap ceritanya. Tapi kejutan itulah yang membuat rencananya berhasil. Yakni membuat pikiran saya berubah, bahwa hal-hal yang saya anggap sepele justru sebenarnya adalah hal-hal yang paling pantas untuk saya sikapi dengan serius. Sangat serius.

Kejutan 3 : SURREAL, METAFOR, MENGGANTUNG

1

Pada setiap cerpen 100 kata Bamby Cahyadi, ia selalu menuntaskan ceritanya. Dari permulaan cerita, rumitan, klimaks, anti-klimaks, hingga resolusi. Ceritanya utuh. Bulat, solid. Tapi tidak pada cerpen-cerpennya dalam Tangan Untuk Utik.

Bamby seringkali membiarkan ceritanya menggantung. Atau setidaknya bagi saya terasa seperti itu. Ia sepertinya sengaja, membiarkan pikiran dan perasaan saya mengambang, memaksa saya harus terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia berhasil melancarkan strategi dan tujuannya semula: membuat saya ikut merenung. Saya seringkali terpaksa berhenti di bagian akhir ceritanya. Berhenti namun tak bisa langsung melanjutkan langkah ke cerita berikutnya. Saya terpaksa terdiam. Tertegun. Merenung. Saya tidak bisa melawan!

2

Bamby juga melakukan sesuatu yang menurut saya cukup ekstrim. Ia bermain dengan perumpaan, metafora. Mengingat ia kebanyakan bercerita dengan cara yang lugas dan jarang sekali menggunakan peribaratan-peribaratan.

Nuansa metaforik ia tuang penuh dalam cerpen “Mimpi Dalam Stoples Kaca”, dari awal sampai akhir cerita. Di sana digambarkan bahwa sebuah mimpi diperebutkan oleh orang-orang. Mulai perampok, polisi, anak kecil, hingga para anggota DPR.

3

Selain itu, hawa surreal yang aneh dan belum pernah saya temukan sebelumnya dalam cerpen-cerpen Bamby, juga turut mewarnai Tangan Untuk Utik. Dalam “Tuhan, Jangan Rusak Televisi Ibuku…” Bamby memberikan kejutannya lewat paragraf-paragraf akhir yang bernuansa surreal. Dari televisi tua peninggalan almarhum suami sang ibu tiba-tiba keluar cahaya warna-warni, diikuti dengan munculnya sosok sang ayah yang notabene telah lama meninggal. Peristiwa tersebut akhirnya membuat sang anak mengerti kenapa ibunya tidak menginginkan televisi tua itu diganti dengan yang baru, meski telah berkali-kali rusak dan diperbaiki. Sebab sang ibu memiliki dunianya dalam televisi tua itu.

Kejutan 4 : ???

Setelah bermain dengan metafor, nuansa surreal, menghilangkan kekocakan, ada satu lagi kejutan yang Bamby sisipkan diam-diam dalam cerpen-cerpennya.

Apakah itu?

. .

. .

. .

Ah, ayolah.. jangan manja. Beli bukunya dan temukan sendiri.

Ciao!


Kiamat 2012? Alamakk!

2012

Bicara soal kiamat, apa yang mutlak dari peristiwa itu: keniscayaan akan terjadinya, ataukah tentang waktu terjadinya? Sudah pasti jawabannya adalah: keniscayaan akan terjadinya, BUKAN kapan waktu terjadinya. Maka dengan segala keingintahuannya manusia mereka-reka, menggunakan berbagai teori dan ilmu yang dimiliki (yang notabene sangatlah t-e-r-b-a-t-a-s), mereka membuat prediksi atas waktu terjadinya peristiwa kiamat.

Hingga sekarang sudah banyak ramalan-ramalan atau prediksi ciptaan manusia akan kapan terjadinya kiamat itu. Dan ramalan-ramalan itu sendiri TIDAK PERNAH terbukti kebenarannya. Berikut 10 ramalan kiamat yang tidak terbukti:

 

10 ramalan kiamat yang tidak terbukti


Terkait tentang ramalan kiamat pada tahun 2012 yang sedang kembali hot sekarang ini (karena beberapa tahun sebelumnya, sebenarnya wacana 2012 ini sudah meruak ke permukaan ditandai dengan banyaknya buku yang membahas ramalan itu), maka satu yang tidak mungkin lepas dari pembicaraannya adalah siapa yang membuat ramalan 2012 itu- jawabannya yaitu suku Maya. Apa itu suku Maya? Dan bagaimana sebenarnya mereka bisa sampai pada pemikiran / ramalan kiamat pada tahun 2012? Bacaan berikut mungkin bisa sedikit membuka logika kita:

Ramalan kiamat suku Maya telah dipatahkan!


Jadi guys, it’s just all about siklus perhitungan kalender suku Maya yang “kehabisan angka”.

- – -

Film 2012 produksi Hollywood yang belum lama ini masuk di bioskop-bioskop di Indonesia luar biasa menarik perhatian orang-orang. Saya curiga ini hanya gimmick untuk mendongkrak angka keuntungan hingga setinggi-tingginya. Yeah, whatever.

Yang jelas, betapa naifnya manusia jika membuat suatu kepastian- apapun itu- tentang Waktu. Ibarat seorang pengusaha muda yang sukses, bagaimana ia mengira pada masa lalu ia adalah seorang anak yang sangat nakal dan tak mau diurus, bagaimana ia memahami ia bisa sampai pada titik ia berada sekarang, dan lebih lagi.. bagaimana ia bisa memastikan ia akan mengalami apa saja di esok hari?

- – -

Saya membuat tulisan ini, saya yang tahu kapan saya akan menghapus satu atau beberapa huruf dalam tulisan ini, kapan saya akan menambahkan beberapa kalimat, atau bahkan kapan saya membatalkan untuk membuat tulisan ini. Huruf-huruf itu, apa mereka tahu kapan mereka akan dihapus atau ditulis kembali?

Saya Punya Pacar Baru!

nay

ini pacar baru saya! :cozy:

Setelah Feby (bagi yang kenal saya pasti tau Feby ini apa, bukan siapa, hehe) pacar pertama saya sejak Februari kemarin, sekarang saya punya pacar baru lagi. Tapi bukan pacar ke-dua, melainkan pacar ke-tiga (yang ke-dua si ikan. hehe.. :p)

Namanya Nay. Saya beri nama Nay karena jadian bulan November. Pengen dikasih nama Novi, udah basi banget. Nova, Nov, Novel, sama pasarannya. Sempet kepikiran buat ngebalik nama-nama itu, jadi: Ivon, Voni, Ovi, Ivo, keren sih.. tapi belum ngerasa sreg. Setelah pikir-pikir lagi, akhirnya terlintas nama “Nay” di kepala. Selain karena ada “Na”-nya juga (buat menunjukkan bulan November), nggak tau kenapa saya juga suka dengan nama “Kanaya”, atau “Nayla”, pokoknya yang ada “Nay-Nay”nya deh. Terdengar feminin dan puitis.

=D

Malam Minggu Nonton Putu Wijaya

snapshot20091115123237

Aksi monolog oleh Putu Wijaya


Malam minggu
kemarin saya dan tiga orang teman pergi ke acara peringatan 100 hari wafatnya WS Rendra, penyair dan budayawan tersohor yang peristiwa meninggalnya sempat menjadi berita yang cukup lama ‘bertengger’ di nyaris semua layar televisi swasta. Bertempat di aula Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, saya dan teman-teman ternyata tidak tiba terlambat, sekitar pukul 19:30 WIB. Padahal di perjalanan terhadang macet yang-amat-sangat. Tapi untungnya begitu sampai di lokasi acara belum dimulai.

Saya melihat dan membaca x-banner di sudut luar aula, acaranya bertajuk “BURUNG MERAK” dengan monolog oleh Putu Wijaya dan aksi dari Teater Mandiri.

Setelah mencicipi hidangan untuk tamu- kacang rebus dan minuman air jahe- acara sepertinya akan segera dimulai. Kami masuk ke dalam gedung aula dan mendapati tempat duduk sudah penuh oleh para tamu, hanya area lesehan saja yang masih menyisakan ruang kosong. Akhirnya kami bergerak ke sisi gedung dan mendapat tempat serta sudut yang cukup nyaman untuk memandang ke arah panggung.

Acara dibuka oleh penyambutan bla bla bla.. lalu dimulai dengan penampilan musikalisasi puisi oleh mahasiswa dan dosen UGM, membawakan sajak WS Rendra yang kalau tidak salah judulnya “23 Matahari”. Cukup menghibur, walaupun agak sedikit memaksa karena peralatan musik yang dipakai adalah peralatan elektrik- band. Padahal kalau mau lebih nyaman cukup membawakan secara akustik saja. Lebih enak didengar dan tidak ‘kasar’.

Penampilan berikutnya lebih menarik, tanpa jeda tanpa tanda-tanda, tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam panggung dan mulai beraksi. Saya mengira mereka adalah pemain-pemain drama dari Teater Mandiri. Aksi teatrikal mereka, diiringi hentakan musik latar yang menggebu-gebu, cukup membawa perasaan saya masuk ke dalam suasana gelap nan mistis. Di beberapa bagian sempat membuat jantung saya berdebar, karena sound musik latarnya bagus dan keras, senada dengan aksi pemain-pemain drama itu.

Selesai aksi teatrikal- masih tanpa jeda- seorang anggota lain dari Teater Mandiri maju ke depan panggung, dan melakukan deklamasi puisi, puisi karya WS Rendra yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong”.

Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya keluar, Putu Wijaya. Sekali lagi, tanpa jeda- tiba-tiba Putu Wijaya masuk dari sisi panggung dan langsung memulai monolognya. Monolog berlangsung sekitar hampir satu jam, dengan sempat diselingi deklamasi puisi lagi oleh orang yang sama yang mendeklamasikan puisi sebelumnya. Putu Wijaya sendiri membawakan dua monolog. Monolog yang pertama menceritakan tentang ia dan sahabatnya, WS Rendra. Lalu monolog yang ke-dua sekaligus sampai ke akhir acara, dan yang paling menarik dari seluruh rangkaian acara, adalah monolog berjudul “Kemerdekaan”.

Acara berakhir sekitar pukul 21:45 WIB. Sayang sekali saat itu saya nggak bawa Feby, jadi nggak bisa menunjukkan gambar-gambar dari acara itu di sini. Memotret dengan Nay juga nggak sempat kepikiran, bodohnya. Ya udah setelah itu kami pun beranjak dari gedung FIB UGM dan menuju lesehan di Jl. Gejayan untuk makan malammm…!!

:)

Pantai. Pantai. Pantai. Laut!

Setelah berabad-abad lamanya (halah lebay..) saya bisa ketemu LAUT lagi!

Hari Rabu kemarin, saya dan empat orang teman rekreasi ke pantai. Sepulang saya ujian sekitar pukul setengah sebelas siang, perjalanan dimulai sekitar pukul dua belas. Hari itu pergi ke pantai, padahal besoknya (hari ini, Kamis, red) saya masih ada ujian, dua matakuliah pula. But, so what gitu loch? Ha ha ha. Kesempatan ke pantai kali ini terlalu berharga dan sayang untuk disia-siakan. Lagipula dua matakuliah itu nggak begitu susah. *sombong*

Yak, perjalanan dimulai di siang bolong kala Jogja sedang panas-panasnya. Kami sempat mampir untuk makan siang di salah satu rumah makan padang. Saya makan lele goreng, lelenya asinnggg banget, eh.. asin, maksudnya. Kayanya yang masak lagi ngebet pengen kawin.

Oke, lanjut. Selesai makan, perjalanan dilanjutkan kembali. Setengah jam kemudian kami mampir lagi sebentar di minimarket, beli snack dan minuman. Lanjut lagi brum, brum.. tidak terasa (bohong deng, terasa banget.. -__-”) kami udah sampai di Pantai Siung! (kalau nggak mau diskip, sebenernya perjalanan ke Pantai Siung ini lamaaaa… banget, hampir tiga jam lebih, mana sempet keliru ngambil jalur pula, jadi lebih jauh satu jam. *sigh*)

Begitu sampai di pantai yang namanya Pantai Siung (kata temen saya, pantai ini pantai paling ujung dari deretan pantai yang ada di selatan Jogja, makanya dikasih nama “Siung”.. nyambung nggak?) rasa pusing yang tadi begitu mendera sepanjang perjalanan, langsung hilang seketika terbawa angin laut. Rasanya merdeka, gitu. Berdiri di tengah-tengah pantai, merentangkan tangan, memejamkan mata, menarik napas panjang, sambil merasakan kaki disentuh-sentuh buih laut. Oh man, sensasinya bener-bener super!

siung (1)

di bagian yang dangkal, bisa ngeliat kaki sendiri, airnya bening banget kayak sungai

siung (2)

kalau dilihat dari sudut rendah kaya gini, keliatan airnya biru banget, bersih

siung (3)

hijau rumput laut bikin warna yang kontras dengan biru air laut, cantik banget

siung

hamparan pasir pantai yang luas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

Selesai dengan Pantai Siung, rencananya mau ngeliat matahari terbenam alias sunset. Tapi karena di Pantai Siung katanya nggak bisa ngeliat sunset, kami berpindah ke pantai berikutnya.

Pantai Sadranan!


sadranan (4)

Pantai Sadranan

sadranan

bisa juga dipake buat foto-foto berdua, he he he.. pantainya bersih

 

 

 

 

 

 

sadranan (1)

pasirnya halus, ada seperti pulau-pulau kecil, atau mungkin karang kali ya..

 

sadranan (3)

pemandangan saat petang, gagal ngeliat sunset karena awan kurang bersahabat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambaran keindahannya langsung silakeun dilihat sendiri di foto-fotonya aja ya. Saya nggak sempet memikirkan kata-kata lagi karena terlalu senang. Aih, aih..

 

Menjelang maghrib kami beranjak dari Pantai Sadranan, dan mampir untuk makan malam di Bukit Bintang. Tempat kita bisa melihat nyaris seluruh kota Jogja dari atas bukit di malam hari. Indah banget.

Tapi sayang saya nggak ngambil gambarnya, soalnya susah motret malam, hasilnya jarang memuaskan. Jadi ya saya menikmati saja semangkuk bakso panas yang saya pesan, cukup menghangatkan tubuh yang tertusuk angin sejuk Wonosari daerah perbukitan ini.

Oke deh, sampai sini dulu ceritanya. Saya lupa hari ini saya masih ada ujian, dua matakuliah. Dan itu setengah jam lagi akan dimulai!

 

sadranan (2)

end session

Anal dan Paramore

paramore
.
Pertama-tama, sumpah.. Anal dan Paramore sama sekali nggak ada hubungannya! Cuma menggambarkan dua hal yang sedang ingin saya tulis hari ini. Okey.
- – -

Cicak, Buaya, Cicak, Buaya, Hoek!

cicakblog

cicak

Bangun pagi ini saya langsung disuguhi sarapan sinetron Cicak vs. Buaya.

Kayanya sekarang nggak ada yang nggak tahu apa maksud saya dengan Cicak vs. Buaya. Sudah hampir kurang lebih beberapa minggu belakangan kasus korupsi KPK (yang ternyata nggak hanya melibatkan pejabat KPK, tapi buuuaaaanyakk pejabat-pejabat tinggi negara lain) sedang panas-panasnya bergulir, jadi buah bibir di mana-mana: mulai dari televisi, kampus, sampai warung nasi dan warung kopi. Yang paling “parah” adalah televisi, tentunya. … continue reading this entry.

JOGJA = HOT + F***ING DRIED!

global-warming

Nyaris sebulan belakangan ini Jogja PANASNYA minta ampun!

Padahal semestinya, seharusnya, sepatutnya, ooh.. dirimu tak tinggalkanku kekasih~ (ya saya tau, cepet cari kapas!) -Padahal sekarang ini udah masuk musim penghujan. Bulan yang berakhiran -ber itu bulan-bulan musim hujan, kan? Mulai September, Oktober, November, Desember, Januari, sampai Februari (sebenernya Januari dan Februari juga ada -ber nya lho, cuma waktu nyusun kalender pertama di dunia, si tukang kalender terlalu bahagia ngeliat anak pertamanya lahir, jadi dia ngasi nama ‘ari-ari’ di dua bulan itu. Gak nyambung yah? Biarin. :p)

Awalnya saya nggak begitu merasa kesulitan menghadapi cuaca yang aneh ini. … continue reading this entry.

Akhirnya, Saya Tidak Sembelit Lagi!

Sabtu, 7 November 2009

 

diary


Mulai hari ini setelah bertahun-tahun menulis, saya memutuskan untuk membuat sebuah diary blog.

Terdengar bencong? Ha ha.. Ya, begitulah. Tapi tidak masalah buat saya. Dulu sekali saya sudah berniat untuk membuat sebuah diary blog, yaitu mengisi blog saya dengan catatan-catatan harian, bukan tulisan yang serius. Mencatat apa yang saya alami selama sehari penuh, atau mungkin hanya beberapa hal yang menurut saya perlu untuk dicatat saja. Tapi saya urungkan niat itu, karena merasa repot sebab saat itu saya merasa terbebani sendiri, harus menulis setiap hari, padahal tidak setiap hari saya punya semangat untuk menulis.

… continue reading this entry.

« Older entries