
Kejutan 1 : 100 KATA BAMBY CAHYADI
Kejutan!
Itulah satu kata yang menurut saya paling cocok disematkan pada cerpen-cerpen Bamby Cahyadi.
Sedikit mengingat kembali awal perkenalan saya dengan Bamby Cahyadi, yaitu di situs komunitas penulis http://kemudian.com, saya langsung tertarik saat baru membaca satu postingannya di sana, cerpen 100 kata. Cerpen 100 kata sendiri baru kali itu saya dengar. Jelas cerpen 100 kata berarti cerita pendek yang hanya berisikan 100 kata, alhasil menjadi cerita pendek yang sangat pendek. Seperti hal-hal pendek lainnya, tentu yang menjadi tantangan adalah bagaimana seseorang dapat melakukan hal yang menarik, ‘menggebrak’, ‘menendang’, atau ‘menusuk’ dalam ruang yang sangat sempit dan terbatas itu. Tapi Bamby berhasil. Sangat berhasil! Apakah lagi yang seseorang harapkan dari sesuatu yang sangat singkat, pendek? Tidak lain dan tidak bukan. Kejutan! Dan Bamby telah memberikannya.
Dan tanpa saya sadari saya telah membuat tulisan 100 kata di paragraf sebelumnya.
:p
Kejutan 2 : SEDERHANA = SERIUS
Kenapa saya mengingat kembali cerpen-cerpen 100 kata Bamby Cahyadi? Karena saya sangat menyukainya. Cerpen 100 katanya penuh kejutan, kreatif, dan kocak. Tapi yang terakhir tidak saya temukan lagi di cerpen-cerpen bukan-100-kata Bamby Cahyadi, khususnya dalam Tangan Untuk Utik ini.
Dalam Tangan Untuk Utik, Bamby terlihat muram, lebih sering bersedih, seolah sedang memikirkan banyak hal serius. Sangat serius. Saya membayangkan Bamby sedang duduk termangu di teras rumah, membiarkan segelas kopi di meja kecil di dekatnya pelan-pelan menjadi dingin. Atau sedang menatap kosong layar komputer di tempat kerjanya tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Bahkan sampai merenung panjang di tempat tidurnya, di balik selimut tebal, mengacuhkan gelap malam dan hawa dingin, membisu bersama pikiran yang berkelana tanpa raganya, mengacuhkan istrinya.
Hal-hal yang sedang direnungi oleh Bamby bukanlah hal-hal besar. Bukan hal-hal yang dianggap penting oleh banyak orang. Bamby memikirkan hal-hal sepele. Sederhana, kalau tidak mau menyebutnya remeh.
Ia berpikir tentang seorang karyawan tua yang merasa sangat kesepian di saat-saat mendekati masa pensiunnya. Ia berpikir tentang seorang ibu yang merasa dapat bertemu dengan almarhum suaminya lewat televisi tua. Ia berpikir tentang seorang warga kampung yang tiba-tiba merasa tidak lagi sedang tinggal di dalam negerinya sendiri. Ia berpikir tentang seorang sahabat yang ingin berkorban untuk sahabatnya. Semacam itulah.
Namun Bamby memikirkan hal-hal remeh itu dengan serius. Sangat serius. Dan ia ingin menghasut orang lain untuk turut memikirkan hal-hal itu sebagai sesuatu yang serius. Lantas bagaimanakah caranya menyampaikan kepada pembaca (selanjutnya menjadi “saya”; red) lewat tulisannya akan hal-hal sepele itu, agar saya juga ikut duduk bersamanya dan berubah pikiran bahwa hal-hal itu sebenarnya memanglah hal-hal yang serius? Yakni dengan siasat, memberikan kejutan!
Bamby menyentak benak saya lewat kejutan. Tidak banyak, sebuah untuk setiap ceritanya. Tapi kejutan itulah yang membuat rencananya berhasil. Yakni membuat pikiran saya berubah, bahwa hal-hal yang saya anggap sepele justru sebenarnya adalah hal-hal yang paling pantas untuk saya sikapi dengan serius. Sangat serius.
Kejutan 3 : SURREAL, METAFOR, MENGGANTUNG
1
Pada setiap cerpen 100 kata Bamby Cahyadi, ia selalu menuntaskan ceritanya. Dari permulaan cerita, rumitan, klimaks, anti-klimaks, hingga resolusi. Ceritanya utuh. Bulat, solid. Tapi tidak pada cerpen-cerpennya dalam Tangan Untuk Utik.
Bamby seringkali membiarkan ceritanya menggantung. Atau setidaknya bagi saya terasa seperti itu. Ia sepertinya sengaja, membiarkan pikiran dan perasaan saya mengambang, memaksa saya harus terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia berhasil melancarkan strategi dan tujuannya semula: membuat saya ikut merenung. Saya seringkali terpaksa berhenti di bagian akhir ceritanya. Berhenti namun tak bisa langsung melanjutkan langkah ke cerita berikutnya. Saya terpaksa terdiam. Tertegun. Merenung. Saya tidak bisa melawan!
2
Bamby juga melakukan sesuatu yang menurut saya cukup ekstrim. Ia bermain dengan perumpaan, metafora. Mengingat ia kebanyakan bercerita dengan cara yang lugas dan jarang sekali menggunakan peribaratan-peribaratan.
Nuansa metaforik ia tuang penuh dalam cerpen “Mimpi Dalam Stoples Kaca”, dari awal sampai akhir cerita. Di sana digambarkan bahwa sebuah mimpi diperebutkan oleh orang-orang. Mulai perampok, polisi, anak kecil, hingga para anggota DPR.
3
Selain itu, hawa surreal yang aneh dan belum pernah saya temukan sebelumnya dalam cerpen-cerpen Bamby, juga turut mewarnai Tangan Untuk Utik. Dalam “Tuhan, Jangan Rusak Televisi Ibuku…” Bamby memberikan kejutannya lewat paragraf-paragraf akhir yang bernuansa surreal. Dari televisi tua peninggalan almarhum suami sang ibu tiba-tiba keluar cahaya warna-warni, diikuti dengan munculnya sosok sang ayah yang notabene telah lama meninggal. Peristiwa tersebut akhirnya membuat sang anak mengerti kenapa ibunya tidak menginginkan televisi tua itu diganti dengan yang baru, meski telah berkali-kali rusak dan diperbaiki. Sebab sang ibu memiliki dunianya dalam televisi tua itu.
Kejutan 4 : ???
Setelah bermain dengan metafor, nuansa surreal, menghilangkan kekocakan, ada satu lagi kejutan yang Bamby sisipkan diam-diam dalam cerpen-cerpennya.
Apakah itu?
. .
. .
. .
Ah, ayolah.. jangan manja. Beli bukunya dan temukan sendiri.
Ciao!
