[Review] Sebuah Pertanyaan yang Memucat – Arys Aditya

thumb.php

Menulis fiksi adalah menyampaikan pesan-pesan atau nilai-nilai yang diinginkan oleh si penulis lewat metafora. Apa yang membuat fiksi berbeda dengan pidato dan poster atau pamflet adalah, dalam fiksi kita tidak mendikte, berdakwah, atau berpidato. Kita tidak berkata bahwa “si kancil adalah binatang yang cerdik”. Namun, kita menggunakan sebuah cerita, untuk menggambarkan bahwa si kancil adalah binatang yang cerdik.

Sebagai pembaca, saya membaca fiksi salah satunya adalah untuk melarikan diri dari dunia nyata dan buku-buku nonfiksi yang mendikte. Saya menyukai fiksi karena ia menyodorkan cerita, bukan panduan hidup yang ditulis dalam poin-poin dan disampaikan layaknya nasehat orangtua yang harus dipatuhi. Meski pada akhirnya si pembaca (secara sadar atau tidak, niat atau tidak) akan mengambil nilai-nilai dan pelajaran dari cerita yang ia baca. Namun tidaklah pesan-pesan itu disampaikan seperti poster atau pamflet atau naskah pidato yang kering dan menggurui. Melainkan lewat metafora, sebuah kisah.

Itulah kesan tak nyaman yang saya dapatkan ketika membaca “Sebuah Pertanyaan yang Memucat”, novella karya Arys Aditya (2013, Indie Book Corner). Dibuka dengan adegan percakapan yang apik menurut saya (dan saya menyukainya lebih dari bagian-bagian berikutnya dalam novella ini), cerita pada novella ini semakin ke belakang semakin seperti kelas perkuliahan. Banyak sekali pesan-pesan filosofis yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Yang, sayangnya, disampaikan dengan cara mendikte. Setidaknya, saya merasa demikian. Penulisnya memaksakan nilai-nilai yang ingin ia sodorkan kepada pembaca lewat dialog-dialog tokoh dalam cerita. Mendadak saya seperti membaca buku silabus atau buku nonfiksi yang dibalut sekenanya hingga bisa disebut sebagai fiksi.

Andai saja si penulis menyampaikan pesan-pesan yang hendak ia sampaikan lewat sebuah metafora, lewat sebuah kisah seperti kancil yang cerdik (hanya contoh), tentu novella ini lebih nyaman dibaca. Bagi saya, “Sebuah Pertanyaan yang Memucat” terasa seperti buku pelajaran filsafat yang dibungkus sekenanya agar bisa disebut sebagai buku fiksi.

Saya suka bagian pembuka novella ini. Jika novella ini bisa dibungkus dengan adegan-adegan seperti pada bagian pembukanya, menurut saya akan lebih enak dibaca.

MEMORI (Windry Ramadhina) – Rumah, Keluarga, dan Cinta

Memori, by Windry Ramadhina

Waktu itu saya sedang berjalan-jalan di sebuah mal di Yogya dan, seperti biasa, saya melangkahkan kaki masuk ke Gramedia, sekadar melihat-lihat buku. Tidak sedang ingin membeli, karena masih banyak buku di rak buku di kamar saya yang belum sempat saya sentuh.

Langkah saya terhenti di depan sebuah rak di Gramedia dan mata saya terpaku pada sebuah buku, dengan sampul bergambar lukisan rumah dan tulisan di bawahnya yang berbunyi, “Memori”. Mata saya bergerak ke atas gambar rumah itu dan melihat nama penulisnya, “Windry Ramadhina”. Continue reading

Pencarian yang Hangat dan Haru – “Madre”, Dee

“Madre” – Dee

Rabu, 10 Agustus 2011, tepat pukul sebelas malam saya selesai membaca sebuah buku berjudul “Madre”. Sebelum melanjutkan lebih jauh, saya ingin menambahkan sedikit informasi bahwa saya sedang menderita semacam low back pain saat membuat catatan ini. Akibat dari menulis dengan posisi tubuh kaku untuk berjam-jam hampir setiap hari selama beberapa minggu terakhir. Dokter tempat saya berkonsultasi dua hari sebelumnya menyuruh saya untuk menghindari aktivitas yang membuat otot bekerja berat, seperti olahraga dengan beban, berjalan kaki jarak jauh, atau bepergian jauh, dan juga, menulis seperti yang sedang saya lakukan saat ini.

Tapi entah kenapa, mengenyahkan segala pantangan itu, saya tetap ingin membuat catatan ini. Ada semacam perasaan bersalah terhadap diri saya sendiri jika saya berhenti pada tahap membaca “Madre” saja. Saya ingin menuliskan apa yang saya rasakan saat membaca benda itu. Saya ingin menuliskan keterkejutan saya. Saya ingin menuliskan keharuan saya. Saya ingin menuliskan semuanya.

Maka dengan mengambil risiko sakit di punggung bawah saya menjadi lebih lama sembuh, saya membuat catatan ini. Catatan setelah membaca “Madre”, yang sebenarnya tidak ditujukan untuk siapa-siapa selain untuk diri saya sendiri.

- – -

Ada beberapa judul tulisan yang terangkum dalam “Madre”. Tapi saya tak hendak bercerita tentang semuanya. Saya ingin bercerita tentang bagian yang paling saya sukai saja.

“Madre”, yang menjadi judul buku ini sendiri adalah judul salah satu cerita yang berada di dalamnya. Mengambil porsi paling banyak dibanding judul-judul lain, sebanyak kurang lebih 70 halaman, di mana posisi ke-dua ditempati oleh sebuah cerita berjudul “Menunggu Layang-layang” dengan panjang sekitar 30 halaman dan “Have You Ever?” sepanjang kira-kira 20 halaman; judul-judul lainnya adalah tulisan serupa puisi yang panjangnya tak lebih dari tiga halaman paling banyak.

Oke. Sampai paragraf ini punggung saya mulai sakit.

Di ‘bagian luar’, “Madre” bercerita tentang sebuah perjuangan menghidupkan kembali toko roti yang sudah renta. Namun di ‘bagian dalam’nya sebenarnya lebih dari itu. “Madre” adalah sebuah kisah perjalanan memenuhi tujuan hidup seseorang. Kisah tentang keterikatan hubungan sejarah dan keluarga. Dicampur sedikit colekan tentang makna kebetulan dan takdir.

Ada beberapa tokoh utama di sana: Tansen, Pak Hadi, dan Mei. Saya ingin memaparkan satu demi satu watak mereka, tapi saya khawatir rasa nyeri di punggung saya tak mau diajak kompromi. Maka lebih baik saya langsung mengatakan bahwa cerita ini bagus.

(Udah? Segitu aja? “Bagus”?)

Ya, bagus. Tapi baiknya untuk menghindari lemparan botol, atau dalam hal ini yang masuk akal adalah klik-an tombol close pada halaman catatan ini, maka saya ingin mengungkapkan hal lain.

Saat membaca “Madre”, ada semacam kehangatan dan ketenangan yang aneh yang menyelusup ke dalam tubuh saya. Bagaimana sikap Pak Hadi kepada Tansen. Bagaimana suasana berkumpulnya ex-pegawai ‘Tan de Bakker’ yang sudah lawas. Bagaimana suasana sebuah keluarga yang begitu nyaman dan membuat betah. Seketika muncul perasaan rindu di diri saya akan hal-hal itu.

Selesai membaca “Madre”, saya tersenyum-senyum sendiri. Perasaan hangat itu masih berputar-putar di dada. Saya meminum air mineral dari botol 1500 ml di sebelah kasur saya. Saran dari dokter, memperbanyak minum air putih, walau sedari kecil saya memang sudah hobi minum air putih.

Membaca “Menunggu Layang-Layang”, saya ditarik keluar dari ruangan yang hangat dan tenang di toko roti ‘Tansen de Bakker’ dan dijebloskan ke ruangan lain yang membuat gelisah dan jantung berdebar. Saya terjebak di antara Christian dan Starla. Saya terjebak di antara perasaan mereka yang bertolak kutub. Saya terjebak di antara rasa rindu mereka yang tarik-menarik begitu kuat. Saya terjebak di antara mereka yang sempat mengingkari hati dan mengaburkan keinginan masing-masing.

.“…Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

- – -

Dee berkisah lewat “Madre” dengan cara yang serupa, tenang dan ringan. Beberapa kali ia menyelipkan lawakan yang sukses membuat saya mulai dari sekadar terkekeh sampai terbahak-bahak. Dan yang saya senang ia (terlihat) tidak berusaha untuk itu. Saya sendiri belum banyak membaca buku Dee. Hanya “Filosofi Kopi”, dan “Madre” ini. Yang terlihat sangat berbeda adalah humor yang terdapat di “Madre”. Saya tahu Dee adalah seorang pelawak. Dia hanya sedang mendalami lawakannya lewat menulis dan  bertani.

Ah. Punggung saya mulai mengajak berkelahi. Sepertinya harus segera saya sudahi. Saya memang mengambil risiko membuat catatan ini, tapi tidak lucu kalau setelah ini saya, pemuda 22 tahun terpaksa berjalan kaki dengan punggung membungkuk dan menjadi personil tambahan ex-pegawai ‘Tan de Bakker’.

- – -

Membaca “Madre”, saya semakin percaya bahwa semesta memiliki konspirasinya sendiri yang pada suatu titik tak akan sedikit pun bisa dilawan. Kita hanya bisa menerima, merelakan. Hingga pada akhirnya segala pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala dan dada menemukan jawabannya, yang bahkan kita sendiri sudah tahu sedari awal.

Tapi bahkan kunci kamar yang hilang sepuluh senti dari tempat tidur perlu pencarian hingga berjam-jam ke seluruh sudut rumah, bukan?

(fin)

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA: Agus Noor- Aduhai, Fiksimini!

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia

Dari Fantasi dan Dongeng yang Cantik ke Kisah Kematian yang Misterius

Menegaskan Image Fiksimini

Nyaris seluruh cerita dalam “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” adalah sekumpulan fiksimini dan berupa kumpulan cerita pendek juga. Jadi seperti kumpulan cerita pendek dalam kumpulan cerita pendek. Bisa dilihat dari cerpen berjudul ‘Empat Cerita Buat Cinta’ yang ternyata adalah kumpulan dari empat buah cerpen yang beberapa di antaranya sudah pernah saya baca di koran minggu maupun di buku antologi cerpen lain: “Pemetik Air Mata”, “Penyemai Sunyi”, “Penjahit Kesedihan”, “Pelancong Kepedihan”. Begitu pula pada cerpen berjudul ‘Cerita yang Menetes dari Pohon Natal’ yang terdiri dari tiga buah cerpen lain: “Parousia”, “Mawar di Tiang Gantungan”, “Serenade Kunang-kunang”. Hanya dua judul cerpen yang merupakan cerpen tunggal, yakni ‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, dan ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’. Sementara cerpen sisanya yakni ’20 Keping Puzzle Cerita’, ‘Episode’, ‘Variasi bagi Kematian yang Seksi’, dan ‘Perihal Orang Miskin yang Bahagia’ adalah jelas sebuah fiksimini.

Kenapa cerpen-cerpen tersebut dikumpulkan dan diberi payung satu judul lain, tidak dipajang sebagai cerpen tunggal yang berdiri sendiri (dengan judul sendiri seperti cerpen ‘‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, dan ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’?) Ini sepertinya dilakukan untuk menegaskan image fiksimini yang sudah melekat di benak pembaca tulisan-tulisan fiksi Agus Noor. Saya kira kalau memang ada cerpen-cerpen lain yang senada atau setema dengan ‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, atau ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’, maka mungkin akan dikumpulkan juga seperti itu dan diberi payung sebuah judul lain.

Fantasi dan Dongeng yang Cantik

Membaca cerpen-cerpen dalam “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” seperti membaca sebuah dongeng atau fantasi yang surreal sekaligus cantik. Pada cerpen ‘Empat Cerita Buat Cinta’, (subcerpen?) “Pemetik Air Mata” diceritakan tentang peri-peri pemetik airmata yang memetik airmata (ya iyalah) orang-orang yang sedang menangis (ya iyaalah, lagi.. capede). Cantik di sini maksud saya adalah bagaimana cara Agus Noor merangkai ceritanya dengan kalimat-kalimat yang lembut dan sesekali seolah berkilau bak tetesan airmata hasil tampungan para peri pemetik airmata yang dijadikan ‘butir-butir kristal bening yang menempel dan bergelantungan nyaris memenuhi seluruh langit-langit stalaktit di mana ribuan peri mungil tampak beterbangan lalu-lalang’.

Surreal seperti misalnya pada cerpen ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’ yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Maneka, Alina, dan Sukab. Tentang Maneka yang tiba-tiba di suatu hari mendapat kiriman sepotong bibir dari Sukab, yang sudah lama tak ada datang kabarnya. Juga Alina yang memang sering mendapat kiriman dari Sukab, berupa potongan-potongan telinga. Dan banyak lagi yang lain di cerpen yang lain.

Kisah yang Misterius dan Penuh Teka-teki

Pada ’20 Keping Puzzle Cerita’ saya disajikan sekumpulan fiksimini yang mengisahkan tentang peristiwa kematian seseorang. Teka-teki yang sudah cukup membingungkan tersebut semakin diperparah dengan pengaburan tokoh antara ‘Aku (yang juga berperan sebagai narator cerita), Kau, dan dia (bayang-sosok tokoh lain, yang mungkin juga adalah si ‘aku’ atau si ‘kau’), yang tersajikan pada bagian terakhir dari sekumpulan fiksimini tersebut. Saya benar-benar bingung pada bagian ini.

Pada ‘Episode’ saya teringat akan sebuah cerita misteri anak-anak “Goosebumps” karya R. L. Stine. Yakni ciri khasnya yang terletak pada perpindahan plot yang dapat melompat-lompat. ‘Episode’ terdiri atas beberapa bagian Satu hingga Tiga Belas, dan pada tiap bagian si narator menawarkan pembaca untuk meloncat ke bagian-bagian lain yang tidak pada urutannya. Tapi saya mencoba membacanya dengan berurutan saja, dan ternyata efeknya begitu kentara terlihat perbedaannya kalau saya mengikuti ‘tawaran’ si narator untuk membacanya meloncat-loncat. Masih kalah dengan teknik puzzle “Goosebumps”.

Sekilas Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”

Tentang kumpulan cerpennya “Potongan Cerita di Kartu Pos” yang terbit tahun 2006? Tak jauh beda dengan “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia”. Tetap bernuansa fantasi surreal yang dikemas ringan, seperti pada cerpen “Komposisi untuk Sebuah Ilusi” yang menceritakan tentang kisah cinta sebuah manekin dengan seorang pria; “Pagi Bening Seekor Kupu-kupu…” yang menceritakan tentang seorang bocah yang bertukar tubuh dengan seekor kupu-kupu; “Mata Mungil yang Menyimpan Dunia” tentang seorang bocah yang memiliki mata terindah; “Dongeng buat Pussy (atawa: Nightmare Blues”) tentang seorang nenek yang menceritakan dongeng kepada cucu(?)nya.

Ada juga cerpen yang mengangkat topik-topik aktual seperti pada cerpen “Sirkus” dan “Cerita buat Bapak Presiden…” yang tetap dikemas dengan nuansa fantasi. Juga ada kisah-kisah tentang kematian—“Tiga Cerita Satu Tema” yang dituturkan dalam bentuk puzzle seperti pada cerpen “Puzzle Kematian Girindra”, yang tak membawa saya ke jawaban apa-apa (mungkin karena otak saya belum sampai levelnya kali ya? -___-“). Dan kumpulan fiksimini pada cerpen “Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos”.

Secara keseluruhan, saya merasa cocok dengan gaya narasi Agus Noor dan model fiksimininya. Cerita model fiksimini tersebut lebih nyaman dibaca sehingga walaupun idenya merupakan fantasi tingkat tinggi namun tetap enak ditelusuri. Recommended deh!

Ciao!

HUBBU: Mashuri- Beban Tanah Asal dan Pencarian Diri

Prolog

Desa Alas Abang menyimpan segudang cerita dan tanggung jawab di diri Abdullah Sattar alias Jarot. Tanggung jawab yang tak dapat diemban oleh sembarang orang, yaitu menjadi pemimpin pesantren warisan leluhur.


Dilatari budaya santri yang kuat, Jarot menghadapi berbagai konflik psikologis ketika cinta hadir dan dunia luar pesantren terbuka di depan matanya. Pertemuan budaya Jawa dengan ajaran Islam pun menambah kompleksitas hidupnya.


Akhirnya Jarot sampai pada satu titik, memilih mengikuti nasib atau memberontak melawannya.

Ya, sinopsis singkat yang tertera di sampul belakang novel “Hubbu” rasanya cukup memberikan gambaran umum tentang isi ceritanya. Dengan tokoh utama bernama Abdullah Sattar atau Jarot, nama yang dalam “Hubbu” lebih banyak dipakai daripada nama aslinya itu, Mashuri merangkai cerita tentang seorang yang lahir, hidup, dan dibesarkan di lingkungan pedesaan dan kehidupan pesantren yang memiliki nuansa budaya serta agama yang kuat.

Permasalahan dimulai ketika Mbah Adnan, orang yang dihormati, atau mungkin dianggap sebagai ‘tetua’ di desa tersebut, meninggal dunia. Jarot yang masih anak-anak ketika itu tak mengetahui bahwa pada dirinya lah tanggung jawab kemudian bersandar. Tanggung jawab untuk melanjutkan Mbah, sapaan Jarot terhadap Mbah Adnan, dalam membimbing dan meneruskan ajaran agama serta budaya kepada warga desa dan penerusnya.

Namun Jarot memiliki pilihan lain. Ia memilih untuk keluar dari desa, mencari ilmu dan melanjutkan kehidupan di kota, Surabaya. Ia merasa punya cara sendiri untuk melaksanakan tanggung jawab itu. Ia tak merasa berkhianat kepada desanya, tapi beberapa orang di desanya beranggapan demikian. Ketika kehidupannya di Surabaya dimulai, ketika itulah pergolakan dalam batinnya mendera dirinya. Ia mulai merasakan cinta, rasa suka terhadap lawan jenis- sesuatu yang sama sekali belum pernah ia alami sebelumnya saat di desa. Dan hal ini ternyata berkontribusi terhadap pergumulan pikiran dan hatinya yang selama ini tertata rapi oleh tatanan agama. Jarot tak bisa menghindar.

Toleransi dan Beragama dengan Akal Sehat

Satu hal lain yang saya dapatkan saat membaca “Hubbu”, ada beberapa bagian ceritanya yang menunjukkan bahwa betapapun Jarot adalah seorang yang tergolong kuat pondasi dan bangunan agamanya, ia tak mencerca apalagi menistakan orang lain yang memiliki kepercayaan berbeda dengannya.

Kehidupan cinta Jarot bersama beberapa wanita diakhiri dengan pernikahan beda-agamanya dengan seorang gadis bernama Agnes, penganut agama Kristen. Padahal wanita pertama yang hadir dalam hati Jarot adalah Istiqomah, seorang gadis desa yang tentu seiman dan sepaham dengannya soal agama. Diceritakan bahwa Agnes, yang juga tetangganya itu mengaku tengah mengalami krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan akan keberadaan Tuhan. Jarot tak memaksakan kehendaknya untuk menanamkan nilai-nilai agamanya kepada Agnes, melainkan ia memberi masukan sebatas nasehat tanpa menyinggung batas agamanya sendiri, serta ia meminta bantuan seorang teman kuliahnya yang beragama Kristen untuk membantunya mengatasi krisis kepercayaan dalam diri Agnes. Padahal dalam keadaan seperti itu, Agnes yang ‘rapuh’ secara spiritual bisa saja ‘dimasuki’ Jarot dengan nilai-nilai agamanya, Islam. Mengingat pemahaman Jarot akan Islam sangat kuat dan tinggi. Tapi Jarot tak memilih cara itu.

Pada bagian lain ketika latar cerita berpindah memasuki masa depan, tahun 2040, saat Jarot sudah meninggal dan memiliki seorang anak bernama Aida yang mencoba napak tilas kisah masa lalu ayahnya, juga diberitahukan- dalam sudut pandang Aida- bahwa ayahnya, Jarot, semasa hidupnya setiap kali menasihatinya akan perihal-perihal kelakuan remaja tak pernah membawa-bawa Islam atau mengutip-ngutip dalil maupun ayat kitab. Jarot menasihatinya menggunakan akal sehat. Ayahnya memilih menuturkan perihal resiko akan apapun perbuatannya ketimbang mencekokinya dengan bacaan-bacaan atau dalil-dalil.

Konflik Batin yang Terkesan Dipanjang-panjangkan

Meski “Hubbu” memperoleh posisi pemenang pertama dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2006 dan bagi saya memang ceritanya cukup matang dan bersahaja, bukan berarti “Hubbu” sedemikian bagusnya tanpa cacat.

Pergolakan batin, pikiran dan perasaan Jarot bagi saya pada beberapa bagian cerita terkesan dipanjang-panjangkan. Padahal menurut saya pada bagian tertentu, konflik psikologis tersebut sudah cukup kuat dan tak perlu lagi pembaca (baca: saya) ditambah-tambahi lagi dengan penuturan atau adegan-adegan lain yang menunjukkan konflik batin tersebut. Sudah cukuplah. Saya sudah paham. Mashuri terkesan ingin menunjukkan kepada pembaca inilah fokus ceritanya atau lihatlah betapa rumit dan sulitnya konflik psikologis dalam diri Jarot. Ya, ya, ya..

Epilog

Ada satu bagian dalam “Hubbu” yang bagus untuk saya kutip:

Ayahnya, yang ia anggap hanya bercela setitik itu, telah membuka mata Aida soal warisan. Ia masih ingat aforisma yang dikemukakan ayahnya, bahwa manusia lebih mudah menggapai sesuatu daripada mempertahankannya. Sebab untuk mempertahankan, manusia harus berjuang melawan waktu dan pelapukan, sedangkan untuk menggapainya, manusia harus seiring dengan waktu bahkan bisa pula dengan mengguntingnya.

Pada posisi mana Anda sekarang sedang berada?

: )

JUKSTAPOSISI: Calvin Michel Sidjaja- Siklus, Rahasia 1 % Itu

Menidurkan Tuhan, Memutarbalik RealitasMenidurkan tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Calvin dalam ceritanya. Seperti subtitle “Jukstaposisi”, yakni Cerita tuhan Mati. Ia membuat tuhan tidur, membuat tuhan ‘mati’. Gagasan yang cukup eyecatching bagi saya. Apa jadinya kalau tuhan tidur? Kalau manusia tertidur, maka dalam tidurnya ia bermimpi. Apakah tuhan juga bermimpi? Seperti apa mimpi-mimpi tuhan?

Dalam “Jukstaposisi”, Calvin juga memutarbalikkan realitas. Ia memindahposisikan dunia maya dengan nyata. Nyata menjadi maya, dan maya menjadi nyata. Ashra, tokoh utama cerita, seorang gadis SMP mengira dirinya nyata, dirinya adalah manusia. Namun kenyataannya tidak. Ashra bukan manusia. Ashra bahkan tak pernah benar-benar ada dan nyata. Ia hanya bagian dari mimpi salah satu tuhan. Dunia Ashra yakni dunia manusia, dunia yang “wajar” ternyata hanyalah mimpi dari tuhan-tuhan yang tertidur. Sementara dunia tuhan itulah dunia yang nyata.

Tuhan-tuhan di dunia tuhan tertidur dan bermimpi menjadi manusia. Dunia Ashra adalah ‘produk’ dari mimpi-mimpi mereka. Dunia manusia semata mimpi tuhan yang sedang tertidur!

Perpindahan 3 Dunia

Terdapat 3 macam dunia dalam cerita “Jukstaposisi”. Calvin menggunakannya untuk mengubah-ubah sudut pandang bercerita. Dunia-dunia tersebut adalah Dunia Maya (dunia manusia), Dunia Nyata (dunia tuhan), dan Kabbalah.

Dengan dunia-dunia inilah Calvin memainkan ‘mata’ dan perhatian pembaca (baca: saya). Kalau saya tak jeli ataupun luput sedikit, saya bisa kehilangan jejak ceritanya. Siapa yang bertutur, di dunia mana tokoh tertentu sedang berada, apakah tuhan atau mimpinya tuhan. Ini penting dipahami dan direkam oleh pembaca agar tak kehilangan arah atau ‘kebolongan’.

Alur Cerita yang Belibet

Bagi Anda yang malas mengikuti alur cerita yang belibet saya tidak merekomendasikan “Jukstaposisi” untuk Anda. Tapi bagi Anda yang senang, atau setidaknya masih tertarik dan tahan untuk bersabar sambil membolak-balik lagi halaman-halaman sebelumnya untuk menyambung-nyambungkan cerita, novel ini layak Anda baca.

Belum sampai sepuluh halaman pertama “Jukstaposisi” saya sudah sedikit eneg dengan alurnya, tapi saya coba tahan dulu untuk tidak langsung menutup buku. Memasuki halaman-halaman berikutnya, saya mulai tertarik dan mencoba memahami bagaimana alur cerita ini sebenarnya. Akan tetapi, bahkan sampai separuh jalan saya masih tak dapat memahami. Bahkan, lagi, sampai saya selesai membaca pun, saya merasa masih ada bagian yang belum saya pahami dari jalinan kisah dalam “Jukstaposisi”.

99%, hanya 99% yang saya dapatkan ketika selesai membaca halaman terakhir dan menutup buku. Saya tak bisa memahami 100% maksud dan alur dari “Jukstaposisi”.

Tak, sampai saya merenung sebentar, membolak-balik halaman beberapa kali, awal dan akhir. Barulah saya mendapatkan 1% sisanya.

Siklus, Rahasia 1% Itu

Bagi Anda yang ingin mencoba membaca “Jukstaposisi”, saya ingin membocorkan rahasia memahami ceritanya hingga Anda bisa paham 100%: Siklus.

Ya, siklus. Satu kata inilah yang membantu saya memahami secara utuh sekaligus menambahkan kekaguman saya terhadap “Jukstaposisi”. Sejauh yang saya baca, belum pernah saya menemukan penulis yang menulis cerita ‘berbentuk’ siklus seperti ini. Ceritanya berputar. Alurnya berputar. Dari awal menuju akhir dan kembali lagi ke awal.

Singkatnya, saya ingin katakan: saya harap Anda penasaran.

BOB MARLEY DAN 11 CERPEN PILIHAN SRITI.COM 0809: Sriti.com – 50% Recommended

PreambuleBuku bagi saya adalah harta. Harta untuk kepala. Harta untuk dada. Buku bagi saya juga adalah salah satu alat pemuas napsu. Saya katakan saya adalah lelaki yang bernapsu. Bukan hanya napsu kepada wanita, tentu saja, tapi juga saya bernapsu kepada kata-kata, kepada cerita.

Ketika membuka sebuah buku cerita, baik itu sebuah buku kumpulan cerita pendek ataupun novel, saya berharap di dalamnya saya akan mendapatkan sebuah percintaan yang bernapsu. Entah itu liar ataupun lembut, realistis atau surreal, yang penting dapat memuaskan hasrat saya. Dan ketika cerita tersebut berhasil membawa saya sampai ke puncak, Ahh.. Saya seperti mendapatkan sesuatu yang telah lama hilang. Saya senang. Saya bahagia. Saya puas!

Saya seperti baru saja habis bercinta dengan seorang bidadari. Dan saya menikmati kepuasan itu. Saya menyunggingkan senyum. Pipi saya tersudut. Deretan gigi saya terlihat. Saya menggeliat, menggelinjang.

-

All Stars!

Dihantam oleh cerpen pertama, saya mengalami kegirangan pertama saya. Cerpen “Kematian Bob Marley” oleh Hasan Al-Banna menceritakan tentang seorang pria kampung berperawakan ceking berambut gimbal selayak preman atau penjahat, namun berbudi baik dan melindungi warga desanya. Di suatu hari ia secara mendadak hilang dari desa dan kembali lagi tanpa membawa nyawa. Bob Marley tewas dikeroyok sesama tahanan sel.

Entah, apa yang membuat saya girang. Plotnya tidak luar biasa, penokohannya juga biasa saja, idenya? Ah, tak lah bisa dibilang sangat cemerlang. Tapi saya puas. Saya girang. Seperti saat Anda mengalami orgasme atau ejakulasi (dalam pengertian sebenarnya maupun lain), bagaimana Anda menjelaskannya? Sulit bukan? Begitulah.

Saya kembali dibuat girang oleh cerpen berikutnya yang berjudul “Induak Tubo” oleh Zelfeni Wimra. Menceritakan tentang kisah seorang ibu tua yang kerap dipergunjingkan oleh warga kampung perihal keadaan dan ketakberdayaan dirinya hidup sebatang kara tanpa anak tanpa cucu. Tanpa keluarga. Dari sini saya mendapatkan satu hal berharga, semacam pesan moral yang sudah lama saya tahu tapi kerap saya lupakan.

Cerpen selanjutnya, “Kandang” oleh Yanusa Nugroho dengan sudut pandang pertama dan pembaca (baca: saya) sebagai ‘tokoh’ yang diajak bicara oleh ‘aku’ dalam cerita, memberikan pesan moral lain dengan cara yang lain pula. “Kandang” berkisah tentang satu daerah tempat tinggal yang seisi warganya membuat rumahnya menjadi seperti ‘kandang’, berpagar tinggi hingga berlapis baja. Mengisolasi diri masing-masing dari tetangga sebelah-sebelahnya. Saya terkekeh di bagian akhir cerita di mana ‘aku’ yang bertutur dalam cerita dari awal hingga akhir menggerutu dan mengutuki perilaku aneh tetangga-tetangganya itu mendadak tanpa ia sadari juga melakukan hal yang sama. Membuat rumahnya sendiri menjadi sebuah ‘kandang’.

“Cinta pada Sebuah Pagi” oleh Eep Saefulloh Fatah mengingatkan saya pada satu judul cerita pendek milik Djenar Maesa Ayu dalam kumpulan cerpennya Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek. Ia memainkan teknik twist di akhir cerita sehingga membuat saya cukup kaget. Seperti duduk di tepi sungai memandangi alir air tenang selama beberapa menit dan mendapati seonggok tubuh manusia hanyut melintas di depan mata.

Intan Paramaditha dengan “Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus” membawa sedikit hal baru, setidaknya bagi saya pribadi. Seperti film di dalam film. Cerita di dalam cerita. Dengan ending yang juga mengejutkan. Dan tentunya, sedikit bernuansa seram dan mengerikan.

Saya hampir dibuat cemberut oleh “Malam Basilisk” milik Dinar Rahayu. Batin saya, ah dilihat dari judulnya, ini pasti cerita yang kata-katanya belibet. Dan benar saja, beberapa paragraf mengamini dugaan saya. Tapi lucunya ternyata si penulis sendiri memiliki dugaan yang sama dengan saya. Jadi seperti dugaan saya sudah diduga terlebih dahulu olehnya. Dia pun mengubah cerita dan mendadak tanpa saya duga sebelumnya menjadikan yang belibet tadi berubah sepele. Tapi setelah itu ia mengubah yang sepele tadi menjadi hentakan baru yang menohok saya. Saya dipuaskan olehnya. Sialan!

Lain lagi nuansa yang dibawa oleh Farizal Sikumbang dengan cerpennya yang berjudul “Guru Safedi”. Ia membawa kisah seorang guru yang saya rasa juga diangkat dari keseharian dalam dunia sebenarnya. Alurnya sederhana dan membawa hawa kesederhanaan pula. Namun di dalam itu ada sesuatu yang kembali menohok saya. Bukan menohok gembira. Tapi menohok sedih. Ia menyentuh.

Saya diberi kejutan lain oleh cerpen “Malam Kunang-kunang” oleh Rama Dira J. Tentang sekumpulan anak-anak yang senang bermain menangkap kunang-kunang meski mereka sudah dilarang oleh orang tuanya masing-masing. Kunang-kunang itu berasal dari kuku orang yang sudah mati, begitu yang mereka dengar. Namun karena telah mendapatkan pelajaran dari guru di sekolah mereka tentang kunang-kunang, maka mereka merasa sudah tahu seluk-beluk asal kunang-kunang sehingga mereka tidak lagi khawatir dan takut dengan omongan orang tua mereka itu. Sampai di suatu malam mereka dikejutkan oleh sesuatu. Banyak sekali kunang-kunang beterbangan. Tidak berkeliaran, mereka mengambang. Naik dari dasar jurang kecil yang di dalamnya berisi mayat manusia.

-

(50% recommended)

Ya, saya nyaris ingin memberikan skor 90 ke atas versi saya sendiri untuk kumpulan cerpen ini, ketika saya mulai membaca cerpen berikutnya. Saya ingat lagi peribahasa lama itu, tak ada gading yang tak retak.

-

Antiklimaks?

Saya seakan mengalami antiklimaks, ketika membaca cerpen Bamby Cahyadi yang berjudul “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang”. Entah, auranya terasa timpang dengan beberapa cerpen sebelumnya. Mulai dari ide, penokohan, plot, pesan, nuansa. Bobotnya terasa berbeda. Yang ini saya katakan, lebih rendah. Saya bahkan sudah menduga akhir cerita sejak beberapa paragraf pertama. Dan benar pula dugaan saya itu. Dan, ini tak bagus buat saya. Mungkin memang jam terbang pula yang membedakan. Saya tak puas di cerpen ini. Saya berharap lebih baik.

Napsu saya kembali menurun saat membaca cerpen “Tanah Lalu” oleh Yetti A. KA. Bercerita tentang kerinduan akan tanah asal. Diakhiri dengan ending yang menggantung dan membuat saya melongo datar. Namun masih lebih baik.

“Kunti Tak Berhenti Berlari” oleh Berto Tukan hanya membuat saya kecewa dengan endingnya yang membingungkan.

Cerpen terakhir, “Batubujang” oleh Benny Arnas sedikit menaikkan napas saya, tapi lagi-lagi saya disuguhi ending yang sedikit membuat bingung. Namun, lebih baik dari tiga cerpen antiklimaks sebelumnya.

-

Akhirnya, saya harus katakan saya agak sedikit kecewa dengan perasaan antiklimaks yang muncul itu. Padahal saya sudah dibawa tinggi ke awan oleh beberapa cerpen pertama yang bagus, namun pelan-pelan dibuat cemberut dan melongo datar oleh beberapa cerpen setelahnya.

Tapi apapun itu, sejauh ini bagi saya kumpulan cerpen Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com adalah kumpulan cerpen yang layak dibeli dan dijadikan koleksi perpustakaan kecil saya. Dan tentu juga perpustakaan kecil Anda.

Oh ya, saya lupa dengan bidadari cantik tadi. Pergi kemana dia?

GENESIS: Ratih Kumala- Drummer yang Tidak Pamer Drumset

- – -

Sedikit Review Tak Beraturan

Suster Maria Faustina, yang hendak mengabdikan dirinya kepada Tuhan, malah melihat hal yang sama sekali aneh baginya. Kaumnya (umat Kristen) menghabisi nyawa orang Islam hanya karena mereka (Kristen; red) terlalu angkuh menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan lainnya adalah salah. Tak jauh pula sebaliknya.

Di Ambon, tempat tujuan Prawesti, nama Suster Maria Faustina sebelum ia dibaptis, ia menemukan banyak sekali kekeliruan. Baik yang terjadi di luar dirinya, maupun yang berkutat dalam batinnya. Perang atas nama agama di luar. Perang pecah pula dalam dirinya, perang antara kepercayaan dan keraguannya akan Tuhan dan agamanya.

Suster Maria Faustina memiliki anak bernama Noah, anak yang tidak dilahirkannya sendiri, melainkan melalui rahim seorang perempuan lain bernama Sawitri. Suster Maria Faustina tidak pernah melihat anaknya sampai mereka bertemu di Ambon, ketika Noah tengah bertugas ke sana sebagai anggota tim relawan.

- – -

Dengan alur maju-mundur, Ratih Kumala mengisi celah-celah plot cerita. Cara ini cukup berhasil memberikan informasi kepada pembaca (baca: saya) akan latar belakang masing-masing tokoh beserta kisah masa lalunya. Lewat beberapa bab berisi flashback, saya menemukan alasan-alasan di balik tindakan masing-masing karakter. Mengapa mereka berada pada posisinya sekarang, apa yang mereka cari, dan sebagainya.

Perihal konflik batin masing-masing karakter juga menjadi salah satu hal yang cukup kuat dalam “Genesis”. Penggambaran perasaan dan kegelisahan dalam diri, pikiran-pikiran yang berkecamuk dan mengganggu. Mulai dari Menur- adik Prawesti, Prawesti sebagai Prawesti, Prawesti sebagai Suster Maria Faustina, Sawitri, Noah, Elmira- istri Noah, dan tokoh-tokoh sampingan seperti awak kapal beserta kapten Srigunting hingga dr. Frans yang menyuntikkan kopi ke Suster Maria Faustina hingga ia menjadi menderita dan akhirnya terpaksa disuntik mati.

Pemanfaatan tokoh-tokoh secara optimal, itulah juga yang dilakukan oleh Ratih Kumala. Tak ada tokoh yang kehadirannya terasa sia-sia. Ini lagi-lagi yang saya sukai dari penulis cerita, khususnya novel. Ibarat seorang drummer, saya geli dan benci sekali dengan drummer yang sok-sokan pamer memasang drumset super-duper-lengkap dengan cymbal dan tom yang aduhai-alamak-beraneka-ragam-macamnya tapi ternyata ketika ia bermain yang dipakai hanyalah 1 snear, 1 hi-hat, 1 bass, 2 cymbal, 2 tom, dan 1 floor-tom, set standar!

Namun entah kenapa bagi saya ending “Genesis” kok terasa kurang nendang ya?

Ah, apalah, saya hanya pembaca yang rewel dan banyak komentar ini. Hahaha..

Peace and out!

BON SUWUNG: Gunawan Maryanto – Dongeng yang Asing

Saya sedang didongengi. Dengan cerita yang asing bagi saya. Asing dengan keseharian saya. Asing dengan latar belakang budaya saya. Tapi meskipun begitu entah kenapa saya tetap bisa menikmatinya. Walau saya tak mengenal sama sekali nama-nama tokoh yang tersebut dalam “Bon Suwung”. Paling-paling saya hanya tahu nama Kala, Sri, Siwa, itu pun sekadar tahu tapi tak begitu kenal dan memahami kisah masing-masing tokoh tersebut.

Saya sedang didongengi. Oleh seorang paman, ayah, atau kakek yang paham betul bagaimana cara membuat keponakan, anak, atau cucunya menjadi tertarik dengan hal asing yang akan ia kisahkan. Sebagaimana anak kecil di suatu malam menjelang tidur, saya pun larut dalam tutur katanya, dalam suaranya yang berat, dalam dongengnya. Ia begitu pandai membuat saya masuk ke dalam hal baru dan asing bagi saya. Dan saya tidak risih hingga menepis atau menolaknya. Saya melangkahkan kaki dan menjulurkan kepala pelan-pelan, semakin dalam ke dalam ceritanya.

Saya sedang didongengi. Saya merasa tak mampu untuk berkomentar apa-apa.

Saya sedang didongengi. Kadang tentang sesuatu hal yang lain, jauh dari tempat saya hidup dan berada. Kadang tentang diri saya sendiri! Di cerita pertama, Jangan Bilang-Bilang Kala, saya seperti dikisahkan tentang sebuah mitos atas diri saya sendiri. Jangan Bilang-Bilang Kala bercerita tentang awal mulanya pantangan-pantangan yang sering kita dengar dari orang-orang tua, seperti misalnya ‘jangan duduk di depan pintu’. Saya tak tahu apakah itu benar atau hanya mitos. Ah, saya juga tak perlu memikirkan, saya sedang didongengi dan hanya ingin mendengarkan.

Saya sedang didongengi. Sambil berbaring, saya mendengar suara pendongeng itu semakin lama semakin berat. Tapi anehnya, saya tidak mengantuk. Saya terus mendengarkan. Bahkan sampai di akhir dongeng, saya masih mendengar suara. Suara lain, tentang dongeng yang lain.

Saya sedang dindongengi. Saya tak ingin berkomentar, atau lebih tepatnya, saya tak sanggup berkomentar. Sebab saya didongengi tentang hal yang asing. Tapi saya menikmatinya. Saya memang jarang didongengi, atau lebih tepatnya, saya tak pernah didongengi.

Saya sedang didongengi. Ini semacam masa kecil yang kurang bahagia.

PEREMPUAN, RUMAH KENANGAN: M. Aan Mansyur – Sekadar Hujan, Sekadar Perempuan

“Perempuan, Rumah Kenangan” adalah buku lama, terbitan tahun 2007, dan kalau saya tidak keliru ini adalah novel pertama M. Aan Mansyur. Buku lama, tapi saya baru mendapatkannya saat jalan-jalan sendirian di pesta buku di JEC kemarin, dan saya bukan main senangnya. Harganya cuma Rp. 10.000, gila! Saya bisa mendapatkan novel penulis favorit hanya dengan selembar uang sepuluhribuan. Novel. Penulis favorit. Sepuluh ribu. Saya bersorak dalam hati.

Fiksi atau Otobiografi?

Bahkan sebelum sempat saya bertanya, Aan sudah menangkis terlebih dahulu lewat sebuah quote yang ia pampang di halaman awal “Perempuan, Rumah Kenangan”.

I write fiction and I’m told it’s autobiography, I write autobiography and I’m told it’s fiction, so since I’m so dim and they’re so smart, let them decide what it is or it isn’t. – Philip Roth

Saat belum membaca isinya, saya tidak tahu apa maksud Aan mencantumkan quote itu. Setelah membaca beberapa halaman, barulah saya sadar apa fungsi quote tersebut. Ternyata memang untuk menangkis pertanyaan seperti yang saya ketik sebagai judul bagian tulisan ini di atas tadi.

Ya, fiksi atau otobiografi. Cerita dalam “Perempuan, Rumah Kenangan” memang terasa seperti kisah nyata yang Aan tulis kembali. Benar-benar nyata. Benar terjadi dalam kehidupannya di masa lampau. Tapi pada bagian-bagian tertentu juga adalah fiksi. Seperti bab pembuka dan bab penutup yang Aan beri judul masing-masing Suatu Pagi di Tahun 2022 dan Suatu Senja di Tahun 2022. Kita tahu sekarang baru tahun 2010, maka bisa dipastikan bahwa bagian tersebut adalah fiksi.

Tapi sisanya? Adalah menggali dan mengisahkan kembali kenangan dalam hidupnya, yang Aan lakukan. Tidak direka. Benar-benar hanya menuturkan kembali. Bagian-bagian yang terkesan direka pun seakan tak bisa menggoda saya untuk menganggap bahwa dirinya adalah sebuah fiksi, sebuah rekaan. Saya tetap menganggapnya kisah yang nyata. Kisah masa lalu Aan. Entah kenapa bahkan pada bagian-bagian yang mungkin benar-benar sebuah rekaan, saya bersikeras menganggapnya sesuatu yang nyata. Entahlah, saya pun tak terlalu memusingkan itu, apakah “Perempuan, Rumah Kenangan” adalah sebuah fiksi atau otobiografi.

Tapi kepala saya, apalagi dada saya, tetap bersikeras bahwa “Perempuan, Rumah Kenangan” adalah sebuah kisah nyata.

Tak Ada Gejolak, Tapi Kok Saya Tidak Bosan Ya?

Saat membaca sebuah buku cerita, entah itu kumpulan cerpen atau novel, saya gampang bosan dengan cerita-cerita yang tak mempunyai gejolak, tak memiliki dinamika. Tak ada grafik naik-turun yang tajam dan curam. Seolah-olah penulisnya tak berniat untuk mengajak pembacanya ke dalam pergolakan batin atau adegan-adegan yang menegangkan. Seolah-olah penulisnya hanya berbicara sendiri, dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi pula. Saya tak suka itu.

Tapi itulah yang dilakukan Aan dalam “Perempuan, Rumah Kenangan” ini. Tak ada bagian-bagian khusus dalam ceritanya yang membuat saya menahan napas, melengos, memelototkan mata, mengerutkan jidat. Paling-paling ada satu-dua paragraf yang membuat saya terkekeh sedikit. Sisanya adalah cerita yang bahkan menurut saya terkesan dipanjang-panjangkan.

Tapi saya tidak bosan! Aneh. Aneh bagi saya. Dengan ketidak-adanya dinamika yang kuat itu saya tetap membacanya halaman demi halaman. Saya tetap menikmatinya.

Saya seperti menjadi Aan dalam satu bagian cerita. Duduk di depan pintu atau teras rumah, menyaksikan hujan. Hujan yang tak disertai petir menyambar atau angin kencang. Hujan saja. Tak gerimis, tak pula lebat. Hujan sekadarnya saja. Dan saya pun terdiam menatapi hujan itu. Saya tidak cemas. Saya tidak tertidur. Saya tidak tertarik, tak pula meninggalkannya. Saya menikmatinya. Dalam diam. Sampai hujan itu berhenti begitu saja. Dan membuat saya sadar sedari tadi saya belum mengedipkan mata.

Perempuan, Hujan, Dada Aan?

Kekaguman Aan akan sosok perempuan dan hujan tertulis jelas dalam kisahnya di “Perempuan, Rumah Kenangan”. Ia menuturkan kekagumannya akan sosok perempuan dengan penuh kebanggaan. Neneknya, dan ibunya. Juga teman-teman perempuan dan pacar-pacarnya. Tentang laki-laki? Sungguh kebalikannya. Tak ada tokoh laki-laki yang ia kagumi kecuali seorang yang ia sebut dengan nama Rahman, mantan kekasih ibunya yang hingga meninggal terus bersikeras melamar ibunya yang juga sama bersikeras terus menolak permintaan itu.

Dan tentang hujan, Aan mengaguminya sampai-sampai ia ingin menikahinya. Menikahi hujan! Suatu ungkapan (atau bukan?) yang sangat puitis. Walau hujan hanya berperan pada bagian-bagian awal cerita saat neneknya masih hidup. Setelah neneknya meninggal, ia lebih banyak berkisah tentang perempuan.

Dada Aan adalah dada perempuan. Begitu akunya. Ia tidak menyebut, tapi saya ingin menambahkan, dadanya juga adalah dada hujan.